![]() |
Apakah ini yang dinamakan cinta, sulit sekali membuang rasa ini,
rasa terhadapnya yg sebenarnya ku tahu bahwa dia tak bisa kumiliki. Selalu
teringat wajahnya dan terngiang ucapan dari mulutnya, rasa yang tak bisa
kutawar, sulitnya benar-benar begitu sulit, hati yg tak menyatu dengan kata
logika, tak bisa kubayangkan kesakitan yang kurasa. Andai saja ku mencinta
dengan lurus mungkin sakit ini tak perih seperti ini, sampai kapan hati ini
kuat dan raga ini menopang kokoh semua godaan, aku tak bisa memilih dalam
hidup.
Aku tak butuh apa-apa, hanya satu yang ku inginkan yaitu selalu
melihatnya, karena ku sadar tak bisa memilikinya, maka ijinkanlah mata ini
selalu bisa melihatnya tiap waktu, karena hanya dialah pengobat kerisauan hati
dan kepenatan hidupku. Bisakah hari-hariku tanpa melihatnya?, mungkin akan
serasa sesak nafas ini, fatamorgana yang akan semakin nyata membahana di
hidupku.
Wahai pengobat rinduku, kuingin
selalu melihatmu dalam tiap jalan hidupku, wahai penawar kerisauan tak ingin
hati ini sepi dan mata ini kosong tanpa ragamu di dalam bola mataku, kau adalah
air yg dapat menghilangkan dahaga ini. Ada ‘kesanggupan’ dan kenyamanan hati
ketika mata ini menerka wajahmu, sejuk, hangat dan tak tergambarkan rasa ini.
Jikalau aku salah menilai ini maka aku ingin engkau tahu bahwa aku tak mengerti
dengan hati ini yang menutupku dari kenyataan, hanya ingin engkau tahu bahwa ku
tak mampu jauh darimu.
Jika ku ragu dalam melangkah maka
setidaknya kau adalah penunjuk arah antara nyata dan ilusi, dan jika rasa bosan
bertamu di raga ini, dari guratan senyum dan diam mu lah ku bisa menyamarkan ke
bosanan hidup ini. Jika hidup telah memasang jarak pada raga ini, ada rasa
keyakinan dan do’a suatu saat ku bisa belajar darimu dengan ‘nyata’.
Kau yang tak bisa di raih dengan
senyuman, tak bisa kujamah dengan air mata, tak dapat ditempuh dengan mimpi,
dan sulit di tembus dengan cahaya kalbu. Sepertinya pelangi tersemat di wajahmu
yg dingin, aura yg hijau memberiku oksigen untuk tetap bernafas dalam dunia
yang menurut imajinasi tak memihak hatiku.
Hari yang terusik oleh duniawi,
tak mampu ku menahan indahnya sebuah keindahan bentuk dunia, senyum secerah
matahari, hangat saat malam dan indah bak pelangi mengitaru aura dunia. Begitu
indah raut dunia yang Engkau ciptakan, ingin ku genggam tapi ilusi ingin ku
terka tapi itu mimpi Diantara relung kehidupan antara keinginan yang kuat dan
ketidakberdayaan membuat hati semakin sakit, ingin hidup dalam sebuah kepastian
tetapi tak kunjung ku temukan, romantika ilusi membuat raga semakin terhimpit
munafik.
Wahai sang pencipta jiwa, wahai
sang pencipta hati, hanya diriMu lah yang tahu kegundahan dan kerisauan yang
selalu melekat erat dalam tiap langkah menuju berkah-Mu. Perasaan hati yang tak
bisa kutawar dengan senyum kebohongan, kebahagiaan semu dan tawa dibalik
kesedihan. Belajar untuk menghormati hidup sepertinya ku sudah banyak
menelannya. Dengan keihklasan dan tak bermaksud untuk pergi dari semua
perjuangan dan tanggung jawab, ku merelakan semua ini ya Rabb, dengan sadar dan
ikhlas ku ingin pergi dari kesakitan dan yg semakin hari membuatku tak mampu
berfikir bersih, ku tak ingin membuat catatan semasa hidupku hitam penuh dosa
dan membuat kelam orang-orang yg menyayangiku. Sebenarnya ku yakin Engkau maha
tahu dan maha bijaksana untuk menempatkan semua makhluk ciptaan-Mu dalam
kesesuaiannya.
Air mata yang tak bisa ku
keluarkan mungkin kering atau sudah terbiasa dengan suasana seperti ini, tak
ada teman apalagi sahabat yang bisa diajak untuk bercerita saat ku bingung
berkata aku sangat ingin bertemu dengannya dalam nyata bukan dalam ilusi dan
ingatan kosong. Mencari penawar untuk hal ini tidak mudah sendiri, mungkin
sudah menjadi takdir atau keharusan untuk menahan saat atas realita yang
menganga di depan mata. Saat disebelah ku merajut mimpi dan asa yang begitu
indah aku tertahan di garis sebuah pikiran yang membuat langkah kaki ku
‘keram’. Hidup apakah ku harus mempertahankan dan memperjuangkanmu sedangkan
penghibur penat ini sulit ke gapai dan ku tempuh.
Aku rindu senyummu yang ikhlas
seperti ku merindukan masa kanak-kanak dan masa sekolahku, tenang dan begitu
indah, suasana yang tak membebani pikiran dan hati. Sulitnya melupakan dirimu,
bertempur melawan kenyataan dan bertahan di situasi “hegemoni” kaum berpunya
membuat ku semakin tertekan dan tak mampu berkata apapun, diam sudah menjadi
hal biasa, mulut pun sudah tak mau berkata apapun karna pikiran sudah membaca
apa yang akan mereka lontarkan, berbicara kepada mereka sepertinya sia-sia dan
akan menambah sakit hati, ku tumpuk semua keluh kesah ini dan ku tutup dengan selembar
kain senyum palsu dan tawa fatamorgana agar tetap terlihat “bahagia” dimata
mereka.
Jika aku salah mohon maaf dan jika
ku berdosa pada kalian mohon minta keikhlasannya untuk dimaafkan, hanya waktu
dan cara terbaik membuat diriku menjadi baik dimata kalian. Sabar dan ikhlas
ingin sekali ku tanamkan dalam-dalam di hati ini namun dia tidak tumbuh tapi
dia menjadi layu, waktu yang semakin sedikit untuk berfikir untuk merasakan
sentuhanmu, sentuhan tangan baik untuk menuntun dan mengajarkan bahwa hidup itu
harus bertahan dan menahan ‘serangan’.
Aku rindu kasih sayang yang
sepertinya tak kudapatkan dari siapa pun, kasih sayang yang begitu hangat ku
rasa, kasih sayang yang tak membuat sakit, kasih sayang yang ikhlas, dan kasih
sayang yang membuatku mampu bertahan. biarkan
aku “diam” dalam ketidakberdayaan karena ku tak ada yang memihak, teman-teman
dekatku hanya sepi, mimpi dan lamunan, mereka tahu apa yang sedang kupikirkan
dan kubayangkan, begitu setianya mereka tak ada yang menggantikannya.
Sayang engkau adalah bagian dari
sebuah harapanku yang ilusi, yang
sebenarnya aku sadar dengan sepenuh hati jiwa dan raga bahwa ku tak bisa
membawamu pulang dan memaksa menaruh hatimu untuk memahatkan hatiku di pikiranmu,
tapi aku meminta maaf telah mencintaimu dengan begitu sangatnya, aku tahu tak
bisa ku apakan hati ini tanpa seutas benang cinta darimu. Aku ingin selalu
belajar mengingatmu dan berkomunikasi melalui fikiranmu, jikalau kau mampu
hadir dalam mata dan bayanganku kan kubuat semua itu nyata dan menjauh dari
ilusi.
Terlalu lama air mata ini ku
keluarkan untuk hal bodoh, tapi karena sebuah perbuatan yang kuanggap
sederahana ternyata menjadi sebuah pukulan telak bagi hati ini, kau yang
kuanggap sebuah pengharapan ternyata aku salah.

